*SIDOARJO* - Selasa, (03/07). Dusun Kepetingan, kelurahan sawohan, kecamatan Buduran, kabupaten Sidoarjo terdapat wilayah terpencil di sidoarjo yang bernama dusun kepetingan. Yang salah satu bangunan sekolahnya masih dapat dikatakan kurang memadai untuk sarana pembelajaran.
SMPN Satu Atap Buduran Sidoarjo yang di kelilingi lahan tambak di sisi timur kota sidoarjo, lokasi ini sulit di tempuh oleh masyarakat, untuk menuju sekolah ini harus menggunakan perahu sebagai transpotasi satu-satunya, itu pun perjalanan untuk menuju sekolah tersebut yang ditempuh 8 kilometer dan membutuhkan waktu kurang lebih satu jam.
Jika air sungai meluap mereka harus melawan air sungai yang meluap demi bisa bersekolah, mereka tidak menggunakan pelampung, mereka hanya menggunakan dayung untuk mendayung perahu yang di tumpanginya ke sekolah ini.
Guru yang mengajar pun harus menempuh perjalanan yang cukup jauh untuk menuju sekolah ini. Peralatan dan perlengkapan di sekolah ini juga tidak cukup memadai untuk mengajar, mengingat sekolahan ini di wilayah terpencil sehingga kurang mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Sidoarjo.
Khususnya Dinas Pendidikan Kabupaten Sidoarjo bagaimana mengatasi masalah kurang pemerataannya pendidikan di kota Sioarjo yang dimana dikenal sebagai kota metropolitan akan tetapi masih ada warganya yang kesulitan untuk mengakses sarana pendidikan yang memadai.
Untuk program pemerintah Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tidak merata karena kenyataan dilapangan masih banyak sekolah yang tidak mendapatkan Bantuan Operasional (BOS) bagi masyarakat miskin khusunya di wilayah terpencil sebelah timur kabupaten sidoarjo.
Sejalan dengan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 5 ayat 1 menyatakan bahawa “setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu”. Seharusnya pemerintah kabupaten sidoarjo lebih memperhatikan pendidikan yang berada di wilayah terpencil sebelah timur kabupaten Sidoarjo.
SMPN Satu Atap ini tidak hanya siswa SMP saja tetapi juga ada siswa SD yang bersekolah di satu bangunan yang sama. Bangunan di sekolah ini tidak layak untuk sara pembelajaran, atap sekolah yang bolong (bocor) akan membuat semua siswa sekolah ini menjadi khawatir jika musim hujan sekolah ini akan bocor dan banjir karena atap yang bolong sehingga air hujan bisa masuk ke sekolah.
Sebagian murid SMPN Satu Atap ini hampir tidak mempunyai sepatu untuk sekolah karena pendapatan masyarakat di sekitar wilayah ini penghasilannya dibawah enam puluh lima ribu rupiah, sehingga tidak mampu utuk membeli sepatu. Untuk seragam sekolahpun itu dari pengajar (guru) yang mengajar disekolah ini.
Redaksi : Risa Prasasti Anggraeni (Mahasiswi Prodi Administrasi Publik FISIP Universitas Muhammadiyah Sidoarjo)


