*SURABAYA* - Kamis, (12/07). Surabaya sebagai salah satu kota besar yang ada di Indonesia. menjadikan kota ini Sebagai tempat rujukan tempat berdagang, bermigrasi, dan tak jarang sebagai tempat wisata.
Selain itu, Surabaya menjadi daerah urbanisasi dan industri terbesar pertama di wilayah Jawa Timur sehingga Pertumbuhan industri, perdagangan, dan budaya berkembang pesat tak terkecuali produk makanan sebagai luaran diantara ketiga hal tersebut.
Adanya Hubungan spesial yang saling berkelindan menjadikan terbentuknya suatu fenomena utuh dan diluar kebiasaan pada umumnya, fenomena ini adalah gejala pengunaan kalimat sarkasme pada produk makanan.
Penggunaan gaya bahasa sarkasme dapat dibilang berkembang pesat, seperti Mie Pecun, Penyetan Cuk, Nasi Goreng Jancuk, dan lain sebagainya.
Hingga akhirnya fenomena ini menarik untuk diteliti. Sebab, kajian kebudayaan terhadap segi permasalahan ini belum ada yang mampu mengkaji secara komprehensif terkait penamaan produk makanan dengan menggunakan bahasa Sarkasme yang lambat laun semakin berkembang dan meluas.
Dilatarbelakangi hal tersebut, peneliti melakukan penelitian dengan judul “Surabaya dan Gejala Sarkasme pada Produk Makanan”. Penelitian yang digagas oleh Muhammad Fuad Izzatulfikri (Sastra Indonesia 2017), Saharani Nurlaila Buamonabot (Sastra Inggris 2017), dan Khadijah Aufadina (Sastra Indonesia 2014) ini mendapat pendanaan dari kemristekdikti tahun 2018 dalam PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) bidang Penelitian Sosial Humaniora (PKMP-SH).
Ide penelitian ini didasarkan pada gejala bahasa sarkasme pada produk makanan dan Surabaya yang diidentikkan dengan bahasa pisuhan serta masyarakat yang egaliter, tegas, terbuka, dan dekonstruktif.
Hasilnya diantara lain adalah penggunaan diksi sarkasme pada Mie Pecun yang kami wawancarai beberapa waktu yang lalu. Nama sarkasme pada produk makanan di kedai Mie Pecun diantaranya adalah Pecun Bahenol, Pecun Bugil, Pecun Gatal, Pecun Beceks, Miniset Telor Brondong, Roti Kempit, Tahu Rempong, dan Kentang Kentul Keju.
Dari pengunaan nama-nama tersebut, faktor utama penyebabnya munculnya adalah Semakin tingginya minat masyarakat terhadap kuliner yang menyebabkan tingkat persaingan variasi produk makanan semakin kompetitif.
Faktor ini mengharuskan pedagang makanan berpikir kreatif untuk menjaga eksistensi usahanya. Salah satunya adalah dengan menggunakan nama-nama yang unik dalam produk makanan yang ditawarkan.
Terlepas dari faktor persaingan, penggunaan nama sarkasme tidak terlepas dari kecendrungan masyarakat Surabaya yang terbuka dan egaliter, ekspresi ini ditunjukkan melalui basa surabayaan yang cenderung keras dan tegas.
Oleh karena itu, dalam melakukan pendekatan secara emosional pemilik melakukan upaya pendekatan peristilahan melalui produk makanan yang ditawarkannya, terlebih lagi adanya kontaminasi budaya terhadap kepribadian pemilik yang menjadikan pemilik melakukab fungsi kreatif melalui pendekatan kebudayaan.
Red : Sasa
