ads

16 Juli 2018

  • Follow us

Nikmatilah Dunia Dengan Selalu Belajar Ilmu, Seperti Filosofi Tiang Tua

Nikmatilah Dunia Dengan Selalu Belajar Ilmu, Seperti Filosofi Tiang Tua


*PONOROGO* - Senin, (16/07). Tiang bendera yang tinggi dengan berkibarnya idealisme, kenapa dengan nafsumu kau potong-potong menjadi sudut sempit. 

Kenapa, masih kurang kembung kah perutmu selama ini. Keselektifan yang kurang dalam diri ini seolah hancur dalam melangkah. Kerancuan bertebaran di pinggir tubuh kurus ini. 

Selangkah demi selangkah tetapi kaki merasa sakit. Hati yang takut dengan keadaan. Intelektual yang rancu kau nampakkan tetapi intelektual sesunguhnya yang ada dalam hati yang kau simpan. Diamlah jika intelektualmu masih minim “kata hati kecil ini”. 

Lahir dalam keadaan telanjang malu kah diri ini “tidak”. Kenapa, dalam media kau malu melihat kekurangganmu. Rasa malu kah yang kau buat dalam diri ini, yakin kah kau ini manusia “kata hati yang paling dalam”. 

Kau bungkam hati kecil ini dengan baju hitam yang melekat dalam jiwa ini. Arti yang salah akan menerima di setiap saat langkah menuju kemewahan. Langkah yang berhenti di keramaian, mampus.... “hati yang tidak pernah berhenti dalam mengucapkannya”.
Kau jilat bibirmu... bibir bawah serasa pahit dalam mulut ini. 

Bibir atas manis, lidah lupa ? liur bercampur rasa, akan hilang pahit jika manis itu masih banyak dalam lidah ini. Manis bisakah kau gantikan posisi ini “bibir bawah berkata”. Oh oh, tidak bisa... “bibir atas berkata”. 

Kau di bawah, kau tidak akan merasakan apa yang aku rasakan “bibir atas mulai keras ssat bicara”. Lidah yang membalikan fakta ! liur yang tak tau arah ! habis manis sepah di buang itu salah “dalam diri ini berkata”. 

Tapi, hati ini menolak seakan hati yang tidak terima dengan kata-kata itu. Alahkah indahnya jika lidah ini di salahkan. Liur kah yang di salahkan yang tak punya jalan hidup yang mengikuti arus tanpa ada selektif “hati kecil terus berkata”. 

Adakah yang baik dalam diri ini. Hanya seorang egois, akankah rasa egois itu bisa muncul berbagai ide baru, bisa tapi ; hanya untuk diri ini. 

Orang tidak akan percaya selagi hal itu belum dilakukannya sendiri. Kata-kata mutiara hanya di baca lewat akal tidak melalui rasa yang paling dalam “hati kecil ini berkata”. 

Semua orang bisa berfikir dengan akal tapi adakah yang bisa memakai rasa “diri ini yang penuh dosa berkata”. Hati yang lemah ini seakan bisikan iblis itu menggoda (iblis manusiakah). 

Langkah yang tidak akan berhenti seolah bisa berjalan menuju singasana mewah. Hati yang tak tau arah ‘hati yang di dorong oleh akal dan rasa atau akal dan rasa di dorong oleh hati “ah.. itu sulit buat diri ini, hati yang kecil berkata”. 

Hai, kau manusia sehat, sudahkah kau minum kata mutiara “hati yang marah terhadap diri ini”, sampai  kapan akan kembung tapi tak ada rasa sama sekali, bayangkan jika perutmu buncit.

Lari pelan ! 
Makan banyak !
Dan tak tau lagi apa.....Gubrakkkk...
Rasa ego inlah yang tak bisa di bantah, putar kata, putar arah. Masih ada oportunisme bukan satu melainkan banyak sekali.

Bagaimana aku bisa melawan ini, sedangkan tubuh ini selalu bergetar. Aku bisa apa coba, bayangan-bayangan indah dalam hati ini masih belum bisa menghilangkan rasa oprtunisme ini. 

Entah aku harus gimana lagi. Malulah... di dalam benak ini tidak ada kata musnah, tetapi tubuh ini selalu menyerah akan hal kedepannya. 

Hai tubuh, “hati kecil berkata” kenapa kamu begitu. Aku malu melihat tubuh ini yang bergetar tanpa sebab “tubuh bicara”. Menyerah bukan kata terahir, tetapi di tengah jalan tidak ada hasil masih sama dan sama “tubuh yang ragu akan keadaan”. 

Aku tidak tau apa yang aku buat untuk diri ini. Niat yang awal semangat, pemberani tetapi itu hanya kata-kata busuk dalam diri ini. 
Niat terombang-ambing tak tau mana arah barat atau timur. 

Angin yang menjadi motifasiku, bertanda apa ? tak ada satu kata yang bisa membisikan kata hati ini, entah apa yang aku fikirkan sekarang. 

Bingung, serba salah tujuan yang aku dapat “dalam hati ini berkata”. Kemampuan ini seakan kalah dengan orang di sekitar. Bangsat kah yang ada dalam hati ini oh oh oh. 

Jangan salahkan orang bangsat banyak orang menilai jika seorang yang bangsat pasti bangsat. Belum tentu ! itu perspektif manusia ya wajarlah manusia yang busuk kah ho ho ho. Saya juga gak tau ! sehat kah kamu hari ini, tentu aku sehat. 

Kata-kata manis yang keluar dalam mulut ini seakan sudah hebat. Wah-wah hebat sekali kau nak “hati kecil selalu tak terima”. Kata-kata manis seakan busuk dalam diri ini. Salah kah diri ini hidup. 

Ya, salah dalam kebiasaan baik “hati yang selalu marah dalam diri ini”. Ya, saya mengakuinya “diri ini seolah kalah dengan hati yang paling kecil”. Kata-kata terus sampai kata-kata itu hangus tidak akan bisa kita lakukan jika hanya merenung, merenung dan merenung “hati kecil yang membantu diri ini”. 

Apa coba “diri ini balik tanya lagi”. Ya, itu hanya ada dalam hati kamu, saya juga tidak tau apa-apa. Emang kamu tau kata hati saya, apakah kamu percaya kalau dalam mulut saya baik tapi hati saya busuk ho ho. Bukan itu yang ku maksud tapi keyakinan kita lah yang tau sendiri.

Orang yang sudah mendapat ilmu dari satu golongan pasti dia akan lupa dengan golongan tersebut termasuk diri ini. Banyak orang pintar tapi dia lupa dengan hal yang memintarkan dirinya sehingga dia berlagak sombong seperti apa yang sudah aku lakukan pada yang di bawah. 

Aku lebih baik bangsat, bangsat dalam arti seseorang bilang dari pada bangsat dalamnya. Sedangkan bangsat di dalam itu tidak ada yang tau. 

Kita sama Tuhan lah yang mengetauhinnya. Di pandang paling pintar dalam hal apapun itu yang di lakukan semua orang terhadap atasannya. Tetapi diri ini selalu menolak akan hal itu. 

Dengan seiringnya waktu yang berjalan akan terasa sangat sulit di bandingkan masih duduk di bangku SD. Tubuh yang semula kecil akan menjadi besar yang sekarang terjadi. 

Tetapi, diri ini berfikir terus menerus “apakah kita akan melakukan sesuatu yang instan saja”. Tidak ada kata lurus dalam hidup ini semua pasti akan menerima dalam hal yang liku-liku. 

Hati kecil yang seakan tidak terima akan hal tersebut. Tetapi, mau bagaimana lagi itu sudah menjadi milikku bukan milikmu lagi. Hati kecil yang selau semangat tetapi tidak bisa melihat esensi dalam tubuh ini. 

Seakan tidak bisa membedakan hal yang kecil dalam kehidupan sehari-hari kita. Jarum yang selama ini tajam menurut orang di sekitar katanya sih begitu. 

Tetapi, diri ini selalu menolak jika jarum kecil yang selalu tajam. Masih ada hal kecil dalam diri ini yang belum bisa di ketauhinya. Hati kecil berkata “apakah benang yang kecil itu termasuk yang paling tajam”. Diri sendiri lah yang tau mana yang paling tajam.

Mata yang sehat melihat keindahan dalam dunia ini seakan tubuh ini senang akan hal itu. Mata ini jernih jika melihat yang belum pernah kita lihat. 

Apalagi jika melihat apa yang kita suka. Tetapi hati ini seolah buta melihat apa yang sebenarnya terjadi yang salah di benarkan dan yang benar di salahkan itu bukannya yang salah hatinya kah. 

Aku juga tidak tau karena saya bukan sehebat peramal maupun apa yang menurut kalian hebat. Akan jadi hal menarik jika kita bisa mengetauhinya tetapi sampai kapan kita bisa mengetauhinya. 

Baca buku hanya buat referensi bukan buat di pahami ini lah yang salah dalam diri ini seakan buku itu hanya untuk berlagak sombong. Baca buku setiap hari tetapi tak tau apa yang sudah dibaca atau di pahami. 

Buku sekarang hanya buat referensi atau buat bergaya? Bacanya aja kalau di suruh itu pun terpaksa. Diri ini masih kalah dengan orang yang ahli baca. 

Semakin tua semakin sombong itu lah diri ini berdiri di hadapan kalian. Yang tidak bisa membendung akan hal egois kita. Masih labil diri ini “bukankah kalau sudah tua semakin menunduk”. 

Tetapi, diri ini menolak akan hal tersebut. Kenapa kah tubuh ini, apa yang salah dalam tubuh ini. Hati kah yang selama ini salah hanya mementingkan nafsu dhohirnya saja. 

Sedangkan yang lain kau lupakan sampai kapan hati ini bisa menerima akan hal baik buat hati ini. Sudah  jago dalam hal apapun tetapi nafsumu itulah yang merusak semuanya. 

Nafsu yang sulit di bendung seakan hati ini hancur menerima hal tersebut. Bacaan buku hanya buat referensi menulis bukan menulis datang dari hati yang sudah di hayati hari demi hari. 

Diri ini selalu salah dan tak akan menjadi benar dalam hal apapun. Semakin tinggi ilmu seseorang semakin bertunduk dia. Itu pepatah kuno yang berkata. Tetapi diri ini seakan tidak bisa menerimanya. 

Karena semakin tinggi ilmu semakin sombong diri ini. Sulit untuk membendung nafsu ini. Janji yang di utamakan tetapi prakteknya nol gak ada nilai sama sekali pun. 

Diri ini yang aneh seakan orang lain menggangap gila. Gila dalam jabatan maksudnya. Jabatan yang tinggi seakan tinggi juga diri ini. 

Bukan malah merendah atau bisa kasih sayang terhadap orang yang masih membutuhkan jabatan atau hal yang di sukai dalam dunianya masing-masing. 

Hidup akan berjalan terus entah itu nikmat ataupun tidak. Tidak ada yang tau akan hal tersebut. Kurangi rasa ego kita dalam hal apapun dalam hal sekecil apapun. 

Dunia bukan milik kita sendiri dan bukan milik orang lain jadi biarakan keadaan yang berjalan kita tinggal mengikuti arusnya. Tetapi harus ada bendungannya. 

Bendungan iman yang akan tidak akan turun jika kita yakin dalam hal apapun. Di tulis dalam keadaan kotor akan menjadikan hal kotor. 

Bersihkan iman kita menurut keyakinan masing-masing. Baru kita menulis dengan keadaan suci. Ada filosof berkata ”jika kita tidak anak seorang ulama, maka menulislah”. 

Jika hanya baca buku tetapi kita tidak mau berkarya akan hal baru yang akan muncul dalam dunia ini. Akan menjadikan angan-angan kita yang semakin tinggi yang tidak bisa memunculkan ide-ide baru. 

Menulislah jika mampu walaupun itu hanya dalam satu baris. Dan jangan menulis dengan rasa sombong yang ingin menang sendiri. 

Sombong akan membuat diri menjadi lemah tidak akan bisa kuat jika sombong itu masih tinggi termasuk yang nulis ini. Akan ada rasa nikmat tersendiri jika kita bisa menikmati apa yang sudah kita punyai sekarang.


Oleh : Achyat Daroini (Kader HMI Cabang Ponorogo)