SIDOARJO - Senin, (23/07). Indonesia merupakan negara berkembang yang tingkat kesejahteraan masyarakatnya bisa dibilang masih rendah. Kalau difikir secara nalar bagaimana mungkin negara dengan kekayaan alam yang melimpah mulai dari sumber daya alam, hasil bumi, hasil tambang dan hasil-hasil yang menghasilkan lainnya. Kemanakah semua penghasilan itu?
”Ya.. mungkin sedang dipergunakan untuk bangsa lain, biarlah. Bangsa kita ini kan tergolong bangsa yang amat sangat dermawan”. Sekilas terbesit dibenakku kalimat itu.
Kalau dilihat pada realita bangsa kita memang bangsa yang amat sangat dermawan. Saking dermawannya sampai lupa mengasihi diri sendiri. Dari mulai hasil emas, minyak, bumi, angin, api, udara.. “Lho lho lho.. kok jadi Avatar hihihi..” ya semua hasil dari bumi pertiwi kita itu kebanyakan “disumbangkan” ditangan investor-investor asing. Sementara kita? “nguli dong”.
Kok bisa ya kebanyakan hasil alam kita dikelola asing? Mungkin karena kita tidak bisa mengelolahnya, kita terlalu bodoh, IQ SDM kita njojlog. “lhoooo jangan ngawur sampean kalau berbicara. Lah dikira tiap tahun bangsa kita melahirkan sarjana baru, Doktor, Insinyur, Profesor dan lain-lain itu gak kompeten apa? Kalau menyalahkan SDM mungkin sudah tidak kekurangan lagi kita.
Yang kurang Cuma tekat dan kepercayaan pemerintah saja. Coba kalau pemerintah berani ambil tindakan dan resiko untuk memodali dan memfasilitasi masyarakatnya untuk mengelola hasil bumi Nusantaranya sendiri. Pasti tidak akan seperti ini, ya mungkin pemerintah tidak mau ambil resiko, lebih baik “kongkalikong” dengan asing hasilnya jelas walaupun masih dirugikan.
Pemerintah juga mungkin mempertimbangkan sifat asli bangsa Indonesia yang kemlinthi. Loh kok gitu? Lah iya dong.. orang Indonesia itu sukanya berkelompok kalau kelompoknya besar sedikit sudah mentheng kelek. Lupa sama asalnya, lupa sama saudara-sedarahnya.
Ya contohnya banyak itu golongan dari mulai komunitas Herex, organisasi siswa, organisasi mahasiswa, sampai LSM, parpol dan lain sebagainya yang kalau ada bangsa lain tertimpa musibah baik bencana alam, perang, maupun krisis SARA mereka pasti kompak turun ke jalan-jalan menggalang dana sekaligus membuat kemacetan untuk membantu bangsa yang kesusahan tersebut.
Padahal mereka tidak sadar kalau bangsanya sendiri ambekannya senen kemis. Disekelilingnya masih banyak saudara-saudaranya yang dilanda kemiskinan, susah makan, susah cari kerja, pengangguran, busung lapar, kekeringan dan lain sebagainya.
Tapi mereka malah akas bantu bangsa lain. Ya baik sih membantu bangsa lain tapi setidaknya mengutamakan keluarganya sendiri. Bahkan masyarakat Indonesia yang dalam keadaan pengangguran pun kadang ikut turun ke jalan mencari sumbangan untuk bangsa lain yang terkena musibah. Kurang dermawan apalagi coba bangsaku ini? Hihihi...
Oleh : Syahrul Ramadhani (Mahasiswa Prodi Administrasi Publik FISIP Universitas Muhammadiyah Sidoarjo)
+62 822-3051-5460
