SIMALUNGUN, LintasTotabuan.com - Pembangunan strategis nasional merupakan hal yang sangat dibutuhkan dinegeri ini, seperti pembangunan jalan tol trans Sumatera sudah saatnya didukung stakeholder, baik para pengusaha maupun masyarakat, sehingga hal tersebut akan cepat tumbuh perekonomian masyarakat dan berimbas kepada negara.
Namun saat ini yang terjadi ditengah masyarakat terkait pembangunan jalan tol yang melintasi tiga nagori (desa), Perlanaan, Perdagangan 2 dan Sidotani masih menyimpan segudang pertanyaan ditengah-tengah masyarakat, terkait banyaknya fasilitas umum, baik kerusakan jalan, kerusakan saluran-saluran air yang hancur diduga akibat muatan-muatan berkapasitas besar meterial pengangkut material tol, ditambah lagi dengan dampak sosial yang dialami masyarakat, baik jam belajar anak-anak terganggu atas suara-suara keributan yang ditimbulkan dari segala angkutan material, jam istirahat masyarakat terganggu, keamanan dan kenyamanan masyarakat terganggu atas angkutan yang sudah keluar dari kesepakatan bersama pada saat sosialisasi kepada masyarakat sebelum pembangunan jalan tol dimulai, hingga saat ini masyarakat masih menunggu sampai kapan pertanyaan ini selesai dan menemukan titik terangnya.
Pada pertemuan seluruh kepala-kepala desa (penghulu) yang terdampak desa nya terkait jalan pembangunan jalan tol, berserta para perangkat desa, tokoh-tokoh masyarakat berkumpul dan bermusyawarah yang di inisiasi oleh seorang aktivis desa, Harun Al-Rasyid Mahasiswa Pascasarjana Universitas Veteran Yogyakarta, dan seluruh mahasiswa ditiga desa serta difasilitasi oleh tokoh masyarakat bernama Kariman, di desa Sidotani, Senin malam,18 Januari 2021 dikediamannya.
Pada kesempatan tersebut masing-masing kepala desa memberikan sambutannya, yaitu Suratman kepala desa Sidotani, Tri Jaka kepala desa Perlanaan, dan Andi Azwan Damanik selaku kepala desa perdagangan 2.
Andi Azwan Damanik, mengatakan bahwa hingga saat ini pihaknya dari aparatur Pemerintahan desa masih terus mengupayakan agar para pihak-pihak yang bertanggung jawab untuk segera merespon aspirasi masyarakat yang terdampak atas pembangunan jalan tol.
" Bagaimanapun para perusahaan yang ikut terlibat didalam pembangunan jalan tol ini wajib hukumnya mengeluarkan dana CSR nya," tegas Andi Azwan Kepala Desa perdagangan 2.
Sementara, Kades Perlanaan juga mengatakan, bahwa masyarakat Perlanaan sebetulnya sudah geram melihat angkutan material yang melintasi diperlanaan dengan tonasi diluar kapasitas, ditambah dengan kecepatan pengendara truk pengangkut material.
" Kami sudah selalu, sudah sangat sering menelpon dan menyurati para pihak humas pembangunan jalan tol, namun hingga saat ini belum ada respon bagaimana pertanggungjawaban mereka," ujar Kades Trijaka.
Menurut Trijaka, Ketika ada masyarakat yang mengadu, pihaknya langsung menelpon para pihak humas PP Presisi namun tidak ada tanggapan bahkan yang paling menyakitkan telpon ditolaknya.
Senada disampaikan oleh Trijaka, Kades Sidotani, Suratman juga menambahkan bahwa saat ini para pihak humas kepada aparatur desa terkesan selalu memberikan angin-angin segar.
" Nanti ketika selesai jalan tol akan dibangun kembali fasilitas desa yang rusak, seperti leningan yang hancur, jalan yang hancur dan lain sebagainya. Namun itu hanya sebatas ucapan, dan tidak ada jaminan apakah itu akan terealisasi atau tidak tetapi seperti itulah yang di katakan," ungkap Suratman.
Suratman selaku Kepala desa Sidotani yang sangat terdampak besar terhadap pembangunan jalan tol berharap, apapun yang terjadi atau sikap apa yang dibuat oleh masyarakat, pihak Pemerintahan desa mendukung selama perbuatan itu menyangkut kepentingan masyarakat.
Diforum yang sama, Ghozali Hasibuan menambahkan bahwa sebenarnya banyak para pihak humas telah melanggar kesepakatan bersama sewaktu pertemuan sosialisasi sebelum pembangunan jalan tol ini dimulai, Salahsatunya kata Ghozali, adanya pengangkutan material tol seperti batu krikil. Sebenarnya ini sudah melanggar kesepakatan.
" Kesepakatan bersama itu sudah diketahui oleh kepala desa dan pihak humas PP Presisi, namun kesepakatan bersama itu diterobos. Dan hingga saat ini belum ada tindaklanjut dari hasil kesepakatan tersebut," tutup Ghozali Hasibuan.
Dari hasil musyawarah yang melibatkan tiga desa tersebut, Harun Al-Rasyid selaku mediator, mengatakan bahwa masyarakat memberikan waktu kepada desa yang ditujukan kepada pihak humas PP 2x24 jam dan melayangkan surat somasi nya kepada pihak humas PT PP. Presisi untuk memperjelas siapakah yang akan mempertanggungjawabkan atas kerusakan yang terdampak ketiga desa tersebut.
Harun Al-Rasyid menambahkan, apabila 2 x 24 jam para pihak humas PP tidak merespon, maka masyarakat yang tergabung ditiga desa tersebut mengancam akan melakukan penutupan jalan terkhusus kepada para truk-truk pengangkut material jalan tol. (MA)
