BATU BARA, LintasTotabuan.com - Sudah menjadi kesepakatan Negeri negeri Melayu bahwa Orang Melayu Harus mempunyai Jati diri menunjukkan ciri ciri khas bahwa itu adalah orang Melayu setelah Negeri Melayu menjadikan Islam Sebagai Dasar Kerajaannya menyatakan bahwa orang Melayu itu adalah yang memegang teguh Adat Istiadat Melayu, Berbahasa Melayu dan Beragama Islam.
Orang orang Melayu yang tinggal di sepanjang pesisir garis pantai di semenanjung Melayu dari mulai Madagaskar Afrika sampai Nusantara yang memiliki Kedaulatan, Negeri dan Raja termasuk Negeri Kesultanan Asahan dan Negeri Kedatukan Batu Bara yang dikenal dulunya memiliki kekhasan sifat dan karakternya dengan memegang teguh Jati dirinya sebagai orang Melayu sehingga mudah untuk di kenal termasuk Budaya Berpakaiannya.
Ada ungkapan di adat Melayu bahwa Siapa meninggal syarak, maka ia meninggalkan Melayu, siapa memakai syarak maka ia masuk melayu". atau "bila tinggal syarak maka gugurlah melayunya".
Telah tersurat dalam sejarah Melayu bahwa Adat bersendi Syara' dan Syara' bersendi kitabullah dan pepatah Bahasa menunjukkan Bangsa ini merupakan landasan bahwa Melayu itu memiliki jati diri yang menunjukkan sebagai seorang Melayu.
Rudy Syaputra ST Tokoh Muda Penggiat Budaya Melayu yang termasuk dalam Lembaga Adat Melayu Tuah Deli di Medan mengatakan bahwa sebagai Orang Melayu jati diri Melayu supaya di junjung Tinggi untuk membentengi dari pengaruh pengaruh budaya luar dan dapat merusak khasanah dan rezim suku bangsa Melayu seperti berpakaian banyak para wanita yang membuka aurat bahkan sanggup memakai bikini di tempat tempat umum di objek wisata terutama di Pantai pantai. Begitu juga pemuda pemudi yang terjerumus di lembah hitam dan Narkoba, berjudi dan minum arak yang saat ini di jadikan trend dan modern.
Dulu di Batu Batu orang orang di kenal dengan Sopan santun dan Ramah dan pada waktu sore masyarakat berduyun duyun pergi ke Musholla dan Masjid,apabila magrib terdengar di rumah rumah anak anak mengaji, dan apabila acara mengayun, khitanan, pernikahan masyarakat menggunakan Adat istiadat Melayu dengan hiburan debus, qasidah, senandung namun sekarang itu sudah jarang di jumpai lagi Sebagai Generasi Penerus Bangsa Melayu Jati diri Melayu ini harus tetap di pegang teguh, ungkap Muhammad Nurdin Sekretaris Lembaga Generasi Melayu Batu Bara kepada Wartawan, Senin (9/3/2020) menuturkan di Batu Bara.
Ditempat yang sama, Senada dikatakan Haura Syah Tokoh Muda Melayu Asahan Penggagas Komunitas pemerhati Budaya dan sejarah Asahan (KOPAH) bersama Junsu Anai mengatakan bahwa untuk mengembalikan kejayaan Melayu maka kita sebagai orang Melayu Harus menanamkan Jati Diri Melayu dalam diri setiap orang Melayu dan merealisasikannya dalam hidup dan kehidupan ini terutama dalam pergaulan sehati hari yang dulu di Asahan Tutur kata masih di jaga, Adap sama orang tua, sama guru dan Adat Istiadat Melayu ini sangat kental sekali berbagai pantang dan larangan di patuhi terutama waktu Magrib harus tutup pintu dan bersiap pergi ke surau surau atau ke Mesjid dan selepas sholat berduyun duyun ke rumah guru ngaji sehingga suara anak anak mengaji terdengar dan kini itu sangat langka kita jumpai, akan tetapi kalau acara masih menggunakan adat istiadat termasuk poncak silat masih digunakan waktu acara khitanan atau pernikahan termasuk makan nasi hadap hadapan, Ujar Haura Syah (MA)
