ads

10 September 2019

Dinsos dan Camat Terbanggibesar Sambangi Nenek Watiyem

Dinsos dan Camat Terbanggibesar Sambangi Nenek Watiyem
 Lampung Tengah,Lintastotabuan.com - Sebagai bentuk kepedulian sosial kepada sesama, Dinas Sosial (Dinsos) Lampung Tengah (Lamteng), bersama Camat Terbanggibesar, menyambangi nenek Watiyen (90), nenek jompo miskin.


Kepala Dinsos Lamteng, yang Johanes Chansen, bersama Camat Terbanggibesar, Fathul Arifin, Kepala Kelurahan Yukumjaya, Jhoni Darwin, tiba di rumah kediaman nenek Watiyen yang beralamat di Gang Wawai, RT 24, Lingkungan 5-B, Kelurahan Yukumjaya, sekitar pukul 20.15 wib., Selasa (10/9/2019).


Kehadiran tim disana menindaklanjuti informasi, yang mengatakan bahwa ada warga miskin yang hidup sebatang kara. Untuk memastikan hal tersebut, tim langsung turun ke lokasi dengan membawa beberapa jenis kebutuhan pokok.


Dengan disaksikan Kepala Lingkungan (Kaling) 5-B, Kaisar Bakri, dan keponakan nenek Watiyem, Paimo (57), mewakili Bupati Lamteng, secara simbolis Camat Fathul Arifin menyerahkan sembako kepada nenek Watiyem, berupa beras, mie instan dan sembako jenis lainnya.


Dikatakan Camat Fathul Arifin, kehadiran dirinya bersama tim Dinsos dan aparat pamong kelurahan setempat, untuk memastikan kondisi nenek Watiyem, sekaligus menyerahkan bantuan sembako dari pemerintah daerah.


Mengenai beberapa hal yang menjadi kebutuhan sang nenek, seperti pengobatan dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari, pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Sosial. Pemerintah daerah akan terus memantau dan memastikan tidak ada keluhan, yang dirasakan nenek Watiyem.


"Ya kehadiran kita disini untuk memastikan seperti apa kondisi nenek ini. Selain itu, kita menyampaikan bantuan sembako dari Bupati Lamteng. Mengenai kebutuhan yang lainnya, kita sudah berkoordinasi dengan pihak Dinas Sosial," jelas Fathul Arifin.


Kepala Bidang (Kabid) Rehabilitasi Sosial (Resos) pada Dinas Sosial, Johanes Chansen mengatakan, pihaknya akan mengupayakan beberapa hal pokok yang jadi kebutuhan nenek Watiyem, seperti pengobatan gratis, bantuan sembako dan lainnya.


"Secepatnya kami akan berkoordinasi dengan pihak kelurahan dan kecamatan, agar segera melengkapi beberapa berkas persyaratan, dan kita usulkan kepada pemerintah, agar mendapatkan perhatian," katanya.


Menurut keterangan keponakan nenek Watiyem, Paimo (57), bibinya ini tinggal di rumah sendiri tanpa ada teman seorangpun, sejak ditinggal oleh suami yang meninggal dunia sejak lima tahun lalu, bibinya juga tidak memiliki anak kandung.


Masih kata Paimo, bibinya ini tinggal di rumah yang dibuat oleh dirinya bersama anggota keluarga lainnya, yang berdiri diatas lahan miliknya. Sejak nenek Watiyem tidak dapat bekerja lagi, kebutuhan hidupnya sehari-hari ditopang oleh keponakan, anggota keluarga dan tetangga lingkungan.


"Rumah yang ditempatinya ini, adalah bantuan dari kami keponakannya, termasuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-harinya, juga dari kami dan tetangga yang peduli. Kalau beliau sakit dan berobat, kami juga yang mengurusinya," ulas Paimo. (Rahman/Rls)