Oleh : Rosyid Warisman
Dunia kesehatan di Kota Akhlaqul Karimah lagi-lagi kembali menjadi catatan buruk bagi sang pemangku kebijakan. Bagaimana tidak, banyak masyarakat kota Tangerang mengeluhkan sulitnya mendapatkan pelayanan kesehatan, hal tersebut diperkuat saat Forum Aksi Mahasiswa (FAM) Tangerang melakukan pendampingan pengadvokasian pada Warga Kunciran Indah, Pinang, Kota Tangerang. (14/02/19).
Adinda, Putri Khusnul Khotimah (18). Putri ketiga dari pasangan Ibu Muniroh dan Bapak Zubaedi, Warga Kunciran Indah yang menghidap penyakit Batu Ginjal yang mana sudah 18 Jam menunggu tanpa adanya kejelasan dari pihak Rumah Sakit.
Kronologinya :
Bahwa pasien pada pukul 01:30 WIB mendatangi RS. INSAN PERMATA dimana penanganannya hanya suntik lambung dan nyeri karena peralatan disana tidak memadai, lalu kemudian pasien dirujuk ke RS. BHAKTI ASIH CILEDUG. Sampai di Bhakti Asih sekitar 02:00 WIB. Disini pasien dilakukan cek urin, cek darah, cek laboratorium lalu kembali ditangani dengan suntik lambung dan suntik nyeri.
Setelah hasil lab keluar, ternyata pasien harus segera dirawat intensif dan harus dirawat inap akan tetapi pihak RS. BHAKTI ASIH CILEDUG Berdalih kamar penuh. Sampai akhirnya pihak dari RS. BHAKTI ASIH CILEDUG merujuk pasien ke RS. SARI ASIH CILEDUG. Pada saat itu pukul 03:00 WIB keluarga pasien langsung segera mengantarkan surat rujukan ke RS. SARI ASIH CILEDUG namun pihak rumah sakit meminta pasien menunggu dan sampai jam 19:00 WIB pasien belum mendapatkan kepastian. Pasien dibawa ke RS. Mulya sampai pukul 19:30 WIB. Disana pasien hanya diberi penanganan suntik lambung dan suntik nyeri lagi.
Alasan kamar penuh lagi-lagi diterima oleh pihak keluarga pasien yang mana pada akhirnya pasien tersebut disuruh pulang oleh pihak rumah sakit. Jadi total pasien menunggu kurang lebih 17 jam sambil menahan kesakitan dan pasien sampai saat ini dirumah masih merasa nyeri dan mual.
Pukul 13:00 WIB pasien di bawa ke RSUD Kota Tangerang dengan pengawalan yang dilakukan oleh Forum Aksi Mahasiswa (FAM) Tangerang. Kasus buruknya pelayanan kesehatan ternyata tidak hanya dirasakan oleh Putri saja, di RSUD Kota Tangerang yang notabane nya milik Pemerintah Daerah, ternyata banyak mendapatkan keluhan dari masyarakatnya sendiri. Lambannya penanganan oleh Rumah Sakit mengakibatkan banyak pasien yang terbengkalai dan diperparah ada beberapa pasien yang urgent dimana harus mendapatkan penanganan segera, lagi-lagi dipaksa harus menunggu di depan ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) sampai adanya kamar di Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Buruknya pelayanan kesehatan di Kota Tangerang, jelas sudah bahwasanya Rumah Sakit yang tersebar di Kota Akhlaqul Karimah ini tidak mengedepankan nilai-nilai kemanusian. Rumah Sakit yang seharusnya menjadi tempat pelayanan kesehatan bagi masyarakat saat ini telah berubah dan sifatnya menjadi komersil serta tidak menjunjung tinggi nilai-nilai sosial.
Maka dengan itu, permasalahan di dunia kesehatan khususnya diKota Tangerang harus menjadi perhatian bersama antara pemerintah daerah dengan masyarakatnya. Untuk itu, kami dari Forum Aksi Mahasiswa (FAM) Tangerang siap sedia menjadi garda terdepan dalam menampung keluhan serta permasalahan yang di alami oleh masyarakat Kota Tangerang.
Sedikit kami menyampaikan kepada seluruh elemen masyarakat bahwasanya anggaran APBD Kota Tangerang untuk alokasi di sektor kesehatan tahun 2018 di taman sekitar 30 milyar rupiah. Hal itu diungkapkan oleh Ibu Suparmi Selaku Ketua DPRD Kota Tangerang saat melakukan Audiensi dengan kami beberapa waktu lalu. Seharusnya dengan anggaran yang ditambahkan itu bisa menambah fasilitas dan lainnya untuk menunjang pelayanan yang baik bagi masyarakat.
Atas masalah-masalah yang terjadi dalam dunia kesehatan dikota tangerang, maka dengan itu kami Forum Aksi Mahasiswa (FAM) Tangerang tidak ada kata lain selain Membentuk Dewan Kesehatan diKota Tangerang!!!
#TolakKlasifikasiKelas
#TolakKomersialisasi
#TolakKapitalisasi
#RealisasikanKesehatanGratisTanpaSyarat
#BentukDewanKesehatan
penulis adalah Sekjen FAM Tangerang
