KOTA TANGERANG – Salahsatu faktor penting dalam Pilpres 2019 adalah faktor sistem, dimana dalam sistem tersebut akan tercipta hanya dua pasangan calon, hingga hal tersebut menciptakan suasana politik menjelang Pilpres akan terasa lebih tegang, hal tersebut terkuak saat Diskusi Publik bertajuk "Membendung Politisasi & isu SARA Menjelang Pilpres 2019" yang diadakan GP Ansor Kota Tangerang, Kamis 24 Januari 2019. di jalan Veteran Kota Tangerang.
Diskusi publik yang menghadirkan pemateri anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Tangerang Heri Handani, dosen Universitas Islam Syech Yusuf (Unis) Tangerang Muhammad Ibrahim Rantau. Hadir juga dalam kesempatan itu sesepuh GP Ansor Kota Tangerang, Hilman yang memfasilitasi diskusi tersebut.
Ketua GP Ansor Kota Tangerang, Ahmad Sudarto dalam sambutannya mengatakan bahwa puncak pelaksanaan pesta demokrasi Indonesia semakin dekat. Di masyarakat, suasana jelang Pemilu ini semakin ngeri-ngeri sedap. Isu SARA dan hoax banyak bertebaran di media sosial. Sebagai pemuda terpelajar, Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kota Tangerang mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menciptakan Pemilu 2019 damai, aman dan bermartabat.
“Siapapun yang nanti terpilih, itulah yang akan menjadi pemimpin kita. Di Medsos kita disuguhi berita yang cenderung SARA. Hari ini kita sepakat menciptakan pemilu damai bermartabat anti hoax dan SARA,” terang Ahmad Sudarto.
Dosen Unis, Muhammad Ibrahim Rantau menegaskan, jelang pemilihan presiden 2019 ini muncul sebutan-sebutan sinisme yang bisa membelah persatuan dan kesatuan bangsa. Kita menghadapi fenomena yang berbeda pilihan politik yang di dalam keluarga pun bisa timbul perpecahan.
“Kini kita dihadapkan sinisme, politik identitas. Faktor identitas cenderung menjadi pilihan,” ungkap Muhammad Ibrahim Rantau yang akrab di panggil Baim
Politik identitas diakuinya hal yang wajar, namun ketika diexploitasi maka menjadi kurang bagus. UU nomor 7 tahun 2017 yang mewajibkan electoral threshold calon presiden-wakil presiden sebanyak 20 persen kursi di DPR, dampaknya menimbulkan polarisasi.
Dikerjakan Baim, Ada dua faktor penting di Pilpres 2019, mengapa politisasi SARA itu terjadi karena:
1, karakter/prilaku pemilih ( secara sosialogis, psikologis, rasional)
2. Faktor Sistem, dimana faktor sistem kita yang ada menggiring dan terpolalisasi dalam dua kubu.
Menurutnya bahwa faktor sistem tersebut akan tercipta hanya dua pasangan calon, hingga hal tersebut menciptakan suasana politik menjelang Pilpres akan terasa lebih tegang, tapi bila lebih dari dua pasangan calon (banyak) , maka suasana akan lebih santai/tenang
Anggota Bawaslu Kota Tangerang, Heri Handani dalam paparannya menyebutkan sekarang ini banyak orang yang tidak paham mana kebenaran dan mana yang benar. Contohnya, kata dia, baru-baru ini tersebar hoax yangenyebutkanntukuh kontainer surat suara yang sudah dicoblos.
“Pemuda Ansor harus bisa menepis isu sara dan hoax jelang Pemilu ini. Mari kita sama-sama untuk tidak memperkeruh suasana jelang Pemilu ini,” lugas Heri Handani.
Ia meminta masyarakat jangan terpancing issu sara dan hoax yang banyak beredar di media sosial. Pemilu 2019 diharapkan berjalan dengan baik tanpa hoax dan sara.
Sesepuh GP Ansor Kota Tangerang, Hilman mengungkapkan Pemilu 2019 harus berjalan dengan baik tanpa isu sara dan hoax. Pemilu ini adalah memilih pemimpin yang diinginkan oleh rakyat.
Dijelaskannya bahwa, "Warga Kota Tangerang sudah dicerdaskan dengan hal diskusi ini. Sehingga bisa memilah hal yang positif dan negatif,”
"Terkait Pilpres 2019, Ansor harus bisa menjaga marwah. Anggota GP Ansor sebagai individu diperbolehkan menentukan sesuai pilihan," Tutupnya
• Ida Bastian
