![]() |
| Fathor Rahman |
LintasTotabuan.com, Religi - Bulan Ramadhan merupakan bulan istimewa bagi umat Islam. Selama bulan Ramadhan grafik ibadah umat Islam semakin meningkat dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya. Panorama pemandangan religius terpancar di berbagai sudut kehidupan mulai pagi sampai malam. Bahkan tidurpun menjadi hal yang sangat istimewa.
Ibadah di bulan yang istimewa dan penuh berkah dalam setahun sekali ini tidak boleh menjadi sia-sia dan hanya memaknai sebatas ibadah wajib saja, akan tetapi tidak dapat memetik makna keseluruhan bulan ramadhan (puasa).
Ramadhan secara subtansinya merupakan pusat latihan untuk peningkatan ibadah, keimanan, perbaikan akhlak dan kepekaan dalam bersosial. Perihal dalam konteks pengertian ini kata kunci utama dari pemaknaan Ramadhan adalah menahan diri, secara harfiyah puasa (shiyam) yang berarti pengendalian diri atau menahan diri.
Menahan diri tidak hanya sebatas aspek fisik, makan dan minum, melainkan memiliki aspek spiritualitas dan moralitas menahan dari sesuatu hal yang tidak baik yang berdampak negatif pada kehidupan sosial.
Spirit Ramadhan dalam pengertian menahan diri merupakan pesan berharga bagi masyarakat bangsa Indonesia yang secara notabanenya mayoritas muslim.
Di lain sisi, Belakangan ini muncul berbagai aksi kekerasan baik fisik maupun ulasan lisan yang dilakukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab dengan perilaku yang kurang pandai dalam menahan diri, Kekerasan atas nama agama seringkali bergema di tengah masyarakat yang lebih khusus bagi umat islam dalam memaknai terlalu sempit agama dan lepas kontrol untuk menahan diri. Kekerasan secara lisan banyak menjelma dalam ucapan kebencian, fitnah, hasutan dan provokasi yang pada akhirnya akan mereproduksi kekerasan fisik.
Berbagai problem kekerasan ini muncul karena masyarakat tidak bisa menahan diri untuk tidak memprovikasi, terprovokasi, mengintimidasi, dan mengajak kekerasan melalui ujaran kebencian.
Bulan Ramadhan harusnya juga bisa menjadi ukuhuwah wujud ke Bhinekaan di Indonesia karena merupakan negara yang kaya akan suku, agama, bahasa, budaya dll, sehingga suasana perdamaian dapat tercipta dan kebersamaan akan terus berlangsung tanpa harus terpecah belah, karena inilah nilai pancasila sebenarnya yang termaktub dalam butir ke tiga yaitu persatuan indonesia.
Di bulan suci ini umat Islam dan masyarakat Indonesia pada umumnya diajak untuk meninggalkan berbagai bentuk kekerasan, kebencian dan hasutan dengan cara menahan diri.
Ramadhan tidak hanya sebatas menjadi pintu gerbang untuk menuju perjuangan yang sesungguhya dalam mengarungi sebelas bulan berikutnya. Melainkan juga menjadi barometer seorang hamba Allah yang ingin lebih dalam mengenali dirinya.
Dalam beragama telah diajarkan untuk menjadi jiwa yang penyabar, kritis, transformatif sebelum bertindak agar hasilnya tidak ada yang merasa terdzolimi Sehingga ada rasa kekerabatan dan saling mengasihi. Bertoleransi antar sesama dengan Menerapkan nilai - nilai spiritual dan sosial yang ditempa selama bulan ini, Sehingga dapat terus terpancar sebagai bagian dari nilai ibadah yang rahmatan lil alamin.
Penulis: Fathor Rahman. S,Kom.I
