Gresik – Pelaksanaan pembangunan di wilayah Desa Suci Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik dikeluhkan masyarakat. Pasalnya Pembangunan yang bersumber dari Dana Desa (DD) dan Anggaran Dana Desa (ADD) sepertinya juga dituding tidak tepat sasaran sebab mengabaikan asas skala prioritas misalnya Pembangunan Pasar Desa yang lokasinya di depan jalan arah masuk Pemakaman umum yang bersebelahan dengan jurang terjal tempat pembuangan sampah dan limbah eternet dinilai tidak urgent sebab sudah ada pasar yang menampung para penjual sembako dan PKL di perumahan PPS.
Hal ini dikeluhkan warga setempat yang enggan disebutkan namanya katanya kok bisa pasar desa dibangun depan pemakaman siapa yang mau menyewanya?? Mending dibuat perluasan area makam Sambil mengeluh di depan awak media independentnews.com, pekan kemarin.
“Dikeluhkan lagi oleh warganya masalah pembangunan jalan lingkungan yang dipaving di RW.04 dan RW.05 nilai Rp.200 juta. kenapa dipaving lagi padahal jalan rabat betonnya masih bagus itu namanya mubadzir(membuang2) anggaran disinyalir hanya untuk mendapatkan keuntungan besar Sepertinya pembangunan itu yang penting ada terlihat fisiknya walaupun tidak sesuai anggaran dari besaran ADD dan DD yang di cairkan pemerintah. Tidak jarang ini menjadi polemik di masyarakat,” kata warga setempat
Pasalnya, dana yang besar dari DD dan ADD itu sering dimanfaatkan oknum perangkat-perangkat desa untuk meminta jata fee pada pelaksana proyek-proyek Desa seperti Pembangunn Pasar Desa yang diborongkan pada Pak Suraji (kontraktor ) asal lamongan.
Setelah dapat info itu segera awak media mengkonfirmasi pada kontraktornya hal proyek pasar Desa ternyata memang benar bahwa Pak Suraji hanya memborong tenaga kerjanya dengan alasan didesak limit waktu pekerjaannya harus segera selesai hal senada juga dibenarkan oleh Kades Suci( Nurul Dholam) saat dikonfirmasi oleh awak media di kediamannya pada Kamis (1/3 ) kenapa pekerjaan proyek pasar Desa diborongkan pada kontraktor luar Gresik dan tidak memberdayakan warga setempat " katanya waktunya sangat mepet sulit cari tukang warga Desa Suci karena harus segera diselesaikan selain ongkosnya lebih mahal Rp.150.000 Perhari kalau tukang luar Gresik lebih murah sesuai RABnya, daripada DD itu tidak terserap malah berisiko hal ini sudah dikoordinasikan pada Kepala BPMD Gresik ( Pak Tursilo).
Berkaca dari kondisi tersebut, masyarakat (LSM) berharap agar pihak pengawas dalam hal ini Inspektorat Kabupaten Gresik benar-benar mengecek fakta pekejaan di lapangan dengan akurat dan obyektif jangan hanya pengaruh sangu/amplop dari Peraangkat Desa melololoskan survey pada pekerjaan proyek yang jelek.
Harapan itu serupa juga disampaikan pada Pak Sanusi segai aktivis LSM LIRA Gresik Agar segenap media sebagai social control dan aparat penegak hukum lain agar juga ikut melakukan pemantauan secara ketat Jalannya roda pembangunan di wilayah Kabupaten Gresik agar tidak merajalela terjadi praktek korupsi/KKN karena posisi masyarakat setempat saat ini masih kesulitan mendapatkan data laporan APBDes dan realisasinya dari pemerintahan Desa para perangkat Desa sangat tertutup kalau ditanya hal laporan realisasi APBDes dan SPJ dana Desa apalagi dalam kondisi ekonomi masyarakat banyak lemah daya beli menurun seperti ini lebih sibuk/repot mencari pekerjaan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.
“Hal ini yang menyebabkan mereka tidak bisa leluasa menyampaikan keluhannya kepada pihak terkait,” kata Sanusi sebagai LSM LIRA.
Adapun proyek-proyek fisik berupa jalan arah pemakaman juga belum nampak realisasinya patut dipertanyakan karena sudah ada anggarannya di APBDes 2017 Pembangunan pasar desa Suci 3 unit bangunan kecil berisi 18 stand(kios) dengan menelan biaya Rp.345.954.000 itu dapat diestimasi oleh kacamata orang yang awam kontruksipun dapat menilainya bahwa nilai segitu cukup besar diduga tidak sesuai dengan RABnya.
“Apakah pembangunan itu asal ada fisik dan hanya untuk perhiasan demi menyelamatkan laporan pertanggungjawaban.?? Nah, sebagai bentuk kepedulian saya terhadap kemajuan pembangunan maka hal ini saya sampaikan kerena hanya itu yang mampu dilakukan. Tidak ada maksud dan tujuan lain terkait persoalan
ini,” kata Sanusi pegiat sosial asli putra Bawean yang berdomisili di Jl.Lamongan Dalam GKB itu. ( shr/Grsk)

