ads

03 Oktober 2017

Perspektif Solid Tentang Kalimah Tauhid

Perspektif Solid Tentang Kalimah Tauhid
Al-Ustadz Miftahul Chair Al-Fat, S.Hi. MA

Alumni Perbandingan Mazhab/Hukum Islam UIN Sumatera Utara Berbicara tentang kalimah tauhid ada kalimatullah (kalimah Allah) yang sangat tinggi maknanya dan nilainya dalam mengesakan Allah. Dalam firman-Nya disebutkan :

وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Maknanya : “Kalimah Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Tawbah : 40).

Di dalam sebuah hadits disebutkan bahwa kalimatullah atau kalimah tauhid adalah sebagai berikut,

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ {وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا} [التوبة: 40] قَالَ: «وَهِيَ لَا إِلَهَ إِلَّا الله

Maknanya : “Dari Ibnu ‘Abbas RA tentang firman Allah Swt “dan kalimatullah itulah yang tinggi” (QS. At-Taubah : 40.” Kalimah tauhid itu adalah laa ilaha illallaah tiada tuhan selain Allah.” (HR. Baihaqi dalam kitabnya Al-Asma Wash Shifat).

Di sisi para mufassir seperti Imam Al-Baidhawi Asy-Syafi’i dalam kitabnya Anwarut Tanzil Wa Asrarut Ta’wil jilid 2, hal. 443 menerangkan,

وَكَلِمَةُ الله هِىَ العليا } يعني التوحيد أو دعوة الإِسلام ، والمعنى وجعل ذلك بتخليص الرسول صلى الله عليه وسلم عن أيدي الكفار إلى المدينة فإنه المبدأ له ، أو بتأييده إياه بالملائكة في هذه المواطن أو بحفظه ونصره له حيث حضر

Maknanya : “Kalimatullah yang tinggi itu adalah kalimah tauhid laa ilaha illallah atau kalimat untuk mengajak pada jalan dakwah Islamiyah. Maknanya dijadikan kalimah tauhid untuk memberikan kekuatan dan keselamatan kepada Rasulullah Saw dari tangan orang-orang kafir sampai pada Madina. Kalimah tauhid merupakan prinsip untuk Nabi Saw, menguatkannya dengan prantara malaikat-malaikat-Nya pada saat berada di tanah kelahirannya, menjaganya dan memberikan pertolongan kepada Nabi Saw di mana pun dia berada.”

Kalimah tauhid jika dibaca dengan baik maka akan menguatkan hati, mengundang datangnya malaikat untuk menjaga pembacanya dan membawa pertolongan Allah kepadanya.

Menurut ahli hadits seperti Imam Zakariya Al-Anshari Asy-Syafi’i dalam kitabnya Tuhfatul Baari bab maa jaa’a fil jana’iz jilid 3, hal. 309 memaknai kalimah tauhid ialah,

وَقِيلَ لِوَهْبِ بْنِ مُنَبِّهٍ: أَلَيْسَ لَا إِلَهَ إلا اللَّهُ مِفْتَاحُ الجَنَّةِ؟ قَال: "بَلَى، وَلَكِنْ لَيْسَ مِفْتَاحٌ إلا لَهُ أَسْنَانٌ، فَإِنْ جِئْتَ بِمِفْتَاحٍ لَهُ أَسْنَانٌ فُتِحَ لَكَ، وَإِلَّا لَمْ يُفْتَحْ لَكَ. أسنانه هنا: بقية قواعد الإسلام التي بني عليها

Maknanya : “Imam Wahab bin Munabbih pernah ditanya, bukankah kalimah laa ilaaha illallah itu kunci surga?. 

Wahab menjawab : Benar akan tetapi kunci tersebut harus memiliki penggosoknya. Jika seseorang datang membawa kunci dan penggosoknya niscaya dibukakan surga baginya. Namun jika hanya membawa kunci saja maka belum dibukakan.” Imam Zakariya menjelaskan bahwa penggosok bermakna majazi saja yakni menjalankan syariat yang dibina atasnya.”

Tidak lengkap rasanya, jika hanya membaca kalimah tauhid tapi tidak mentertainya dengan amal. Mengucapkan kalimah tauhid tanpa amal seperti makan nasi saja tanpa lauknya. Artinya bisa kenyang juga tapi tidak memberikan kepuasan.

Dalam pandangan ulama tasawuf, Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulumiddin bab fadhilatut tahlil jilid 1, hal. 289 menjelaskan,

كلمة التوحيد وهي كلمة الإخلاص وهي كلمة التقوى وهي كلمة طيبة وهي دعوة الحق وهي العروة الوثقى وهي ثمن الجنة

Maknanya : “Kalimah tauhid itu adalah kalimat ikhlas bertuhankan Allah, kalimat taqwa, kalimat yang menebar kebaikan, dakwah pada kebenaran, buhul tali yang kokoh dan merupakan harga untuk mendapatkan surga.”

Membaca kalimah tauhid harus diiringi rasa ikhlas yang akan menghantarkan rasa bertauhid itu. Karena pada intinya tauhid itu adalah mengikhlaskan diri dalam ber-Allah sebagaimana Allah menurunkan surat Al-Ikhlas, dengan puncak tauhid bila kaifa tidak bertanya bagaimana wujud Allah, di mana Allah tapi mengimaninya seperti menikmati alam ciptaan-Nya dengan cara merasakan kenikmatan itu ke seantero tubuh. Jika tauhid ini dijalankan dengan sempurna maka Allah akan membayarnya dengan surga.

Dari sisi Ushul fiqh, Imam At-Taftazani Asy-Syafi’i dalam kitabnya Syarh Talwih ‘Alat Tawdhih bab fashlun fil istitsnaa’ jilid 2, hal. 55 menerangkan makna kalimah tauhid,

في كلمة التوحيد إن إثبات الإله بالإشارة لأنه على الأخير كالتخصيص بالوصف

Maknanya : “Kalimah tauhid adalah kalimah yang menafikan Tuhan selain Allah. Penetapan Allah Swt secara mutlak menggunakan isyarat pada akhir redaksi yakni “illallah” yang merupakan pengkhususan Allah berdasarkan shifat-Nya.”

Salah satu yang menjadi karakter Tuhan yang khas adalah tidak ada tuhan lagi selain Dialah Allah Tuhan yang layak disembah. Sisi pengecualian menjadi porsi terbesar seseorang dalam mentauhidkannya. Dengan kata lain, pengecualian itu menetapkan tidak ada ruang di hati hamba selain Allah Swt.

(Hotma)