ads

23 Oktober 2017

Pemerintah Salah Dalam Menggunakan Kekuasaan, Inilah Ungkapan Tokoh Pemuda

Pemerintah Salah Dalam Menggunakan Kekuasaan, Inilah Ungkapan Tokoh Pemuda
Sandri Rumanama

Nasional, LintasTotabuan.com - Setelah aksi yang di lakukan oleh BEM-SI beberapa waktu lalu di bubarkan dengan paksa oleh pihak kepolisian menimbulkam polemik baru, menyikap hal ini salah satu tokoh kuda pengamat sosial politik, Sandri Rumanama merasa bingung dengan suasana sosial dan politik saat ini. Ungkap Sandri.

Saat di temui Sandri Rumanama menuturkan bahwa ironis & miris jika pemerintah salah dalam menggunakan kekuasaan. Ungkapnya

" iya saya merasa pemerintah terlalu sensi dalam menyikapi isue sosial & politik saat ini "

Sampai sampai aksi mahasiswa dengan Trend Isue "Evaluasi Tiga Tahun Kinerja JOKOWI-JK" kok di bubarkan dengan paksa, ini menandakan bahwa pemerintah saat ini memiliki ketakutan tersendiri sehingga sensitive dalam menyikapi persoalan yang ada, bebernya

Saya setelah pikir pikir ternyata adik adik dari BEM-SI adalah sejati mahasiswa  memiliki keberanian sebagai agent of control maka mereka punya tanggung jawab moril terhadapa bangsa ini, setelah itu mereka juga memiliki kesadaran bahwasaanya mereka adalah agent of change, perubahan & pradaban bangsa berada pada tangan mereka. Papar Sandri Rumanama yang juga seorang aktivis mahasiswa dari GmnI ini serta pengrus pusat pemuda LIRA ini.

Namun yang saya herankan kok bisa bisanya tidak ada yang datang menemui mereka baik prasiden maupun wakil prasiden atau siapa yang dianggap sebagai pemangku kepentingan untuk adik adik mahasiswa, ini memberi sinyal bahwa pemerintah saat ini takut untuk di kritisi. Jelasnya

Ya kenapa saya bilang pemerintah saat ini sensitive dalam menyikapi kritikan, pembubaran paksa oleh pihak kepolisian merupakan salah satu pradigma buruk dalam demokrasi kita. Jelasnya

Sandri membeberkan beberapa bukti sensitive pemerintah dalam menyikapi kritikan yang ada, sekurang kurangnya ada tiga catatan penting untuk kita ketahui bahwa Aksi 411 berujung dengan pembubaran paksa oleh pihak kepolisian. Aksi bubarkan komunis di LBH Jakarta juga di bubarkan dengan paksa. Yang berikutnya aksi adik adik mahasiswa BEM-SI juga di bubarkan dengan paksa.

Lalu ada Seruan AKSI 28 Oktober Melawan Radikalisme & Intoleransi, aksi yang di prakarsai oleh civitas Akademik ini penuh dengan tanda tanya, masyarakat awam akan menilai kok kaum intelektual bertindak tanpa ada kajian logis dan objektif, ada apa ? Jelasnya

Lebih lagi ada kecurigaan, tepat pada Hari Santri Nasional bukanya berfikir demi kemajuan santri ini malah santri di giring ke rana praktis dengan membubuhkan tanda tangan santri guna menolak radikalisme & intoleransi, heran saya terlalu mengada ngada tanpa ada pembuktian ril yang objektif dan keterangan nyata atau ada kejadian pasti sebagai tolak ukurnya. Jelasnya

Sandri menambahkan beberapa pernyataan dengna harapan ada yang menjawabnya.
Sekurangnya ada beberapa pertanyaan yang harus di jawab oleh siapa saja yang mengatakan adanya kelompok intoleransi & radikalis itu.

1. Coba tunjukan kepada khayalak umum siapa yang di maksud sebagai kelompok ataupun orang yang di sebut intoleransi dan radikalis tersebut ?

2. Dimana kapan dan pada siapa praktikum radikalis itu di temui oleh civitas Akademika & Para Pengurus pondok pesantren ini ?

3. Dimana mereka berada tunjukan tempat atau kantor yang sering mereka gunakan dalam keseharian mereka ?

4. Ukuran ataua pendekatan kebenaran mana yag di gunakan sehingga para civitas akademika serta pengurus pondok pasantren ini merasa adanya kelompok ekstrimisme sedang bangkit dan berkembang di negara ini ?

5. Kelompok mana saja yang sudah pernah di serang oleh kelompok radikalis dan intoleransi ini.

6. Apa ideologi mereka para kelompok intoleran dan radikalisme ini, sehingga negaa memilki ketakutan tersendiri terhadap mereka ?

7. Apa yang mereka sudah lakukan sebagai bukti otentik dalam hal mengungat konstitusi negara ini ?
Jika ada yang menjawab silahkan biar kami percaya adanya kelompok intolren dan radikalis itu ada. (Jono)